Makna Perjuangan, antara Harap dan Cemas

5428471886_d350662696_z_large

 

Namaku Bu Mentari, biasa di panggil bu Tari, aku mengabdi pada sebuah sekolah full day di Kota Tangerang. Aku termasuk guru yang sudah lama mengabdi pada sekolah tersebut.

Pada suatu pagi di hari sabtu, aku putuskan untuk tetap berangkat ke sekolah, meskipun sambil berjalan pincang, kebetulan sudah 1 bulan ini kaki kananku sering sekali sakit, terasa tertarik uratnya. Pastinya aku tak bisa ikut senam, apalagi renang, tapi setidaknya aku bisa ikut kajian islam yang diprogramkan sekolah hari itu, sayang kalau terlewatkan. Usai ikut kajian dan shalat Dzuhur, rencana mau menghadiri undangan walmud ( khitanan murid ) tertunda karena harus menunggu hujan sampai jam 15 sore,kami pun berangkat meski gerimis menemani perjalanan kami.

Tadi sebelum berangkat ke undangan, Bu Ningsih sempat minta diantar belanja kebutuhan sekolah. Terbesit dihati “Kenapa harus aku, aku kan tidak ada job itu,itu kan kerjaannya sarana dan prasarana …”

Namun, nurani ku berkata, “Apa salahnya kamu bantu,kamu kan tau tempat-tempat yang harganya miring”

“Ingat, jangan pernah terlewat kesempatan berbuat baik ! ”

Alhasil ku dengarkan nurani untuk membantu, yang kebetulan aku juga memang mau lewat tempat tersebut, dan mau belanja juga, jadi sekalian”.

Kami pun berangkat, sesampainya di sana aku-pun langsung membantu pilih-pilih barang-barang yang mau dibeli. Bahkan aku sampai lupa kalau aku juga mau belanja, tapi sudah lah, bisa lain waktu.

Terdengar sayup-sayup transaksi senilai 3 juta sekian barang yang dibeli.

Karena barang yg mau  dibawa banyak,tak bisa kami bawa dengan motor.

Aku bergegas mencari angkot untuk disewa. Angkot yang ku dapat bernomor tertentu, warnanya biru, cuma itu ciri yang bisa kami tandai.

Aku sempat tawar menawar, rencana mau bayar 50 rb, tapi sopirnya bilang nanti saja kalau sudah sampai lokasi bayarnya. Agak aneh memang kedengarannya, dia tidak mau di bayar di muka.

Langit tiba-tiba gelaaaaap sekali… lebih gelap dari malam hari..

Keberangkatan kami diiringi dengan hujan lebat, Alhamdulillah bu Ningsih membawa jas hujan, hanya satu, namun alhamdulillah pemilik toko meminjamkan kepadaku jas hujan plastik. Tidak masalah yang penting kepala dan badan tidak kehujanan. Akhirnya kami pun berangkat dengan motor kami masing-masing, meskipun sekujur badan pun tetap basah kuyup.

Sedemikian lebatnya, tapi mobil itu jalannya lambaaaat sekali, sehingga kami harus berjalan pelan juga, sambil menunggunya, karena sopir tersebut tidak tahu daerah sekitar sekolahku.

2 lampu merah terlewati, kami masih melihat mobil itu mengikuti kami, lagi-lagi ia berjalan lambat.

Separuh badan motor kami terendam banjir, otomatis kami harus fokus ke depan dan menyeimbangkan kendaraan dengan gerakan air,tanpa menoleh ke belakang lagi.

Bu Ningsih sempat berhenti di POM bensin, menunggu mobil tersebut,sementara aku terus maju karena berpikir ada bu Ningsih yang menunjuki jalan.

Aku berhenti tepat didepan sekolah, menunggu bu Ningsih dan mobil tersebut, kok lama sekali yaaa…

Tiba-tiba muncul bu Ningsih menghampiriku dan berkata ” Mobilnya tdk ada…”

Astaghfirullah… Aku dan bu Ningsih langsung putar balik dengan perasaan cemas.

Layaknya Joni pranata kami mengebut dengan lihainya menerjang banjir. Sambil sesekali menoleh ke kanan, berharap mobil itu memang lambat jalannya. Tapi sampai di lampu merah, aku tidak melihat nya, bu Ningsih pun tidak nampak, ia menelusuri jalan ke arah lain, mungkin sopirnya salah jalan. Sementara aku belok ke arah yang berlawanan. Putar balik sampai ke lampu merah lagi tapi tidak juga nampak mobil itu.

Berkecamuk dihati..” Ya Allah… Masa iya siiih orang itu jahaaaat..”

Ya Allah kalau memang ia berniat berbuat jahat, Engkau Maha membolak-balikkan hati, kembalikan ia pada  kebenaran…

Kecemasan yg sama dialami juga sama bu Ningsih, lebih dari 1 jam  kami berputar-putar di sekitar Tangerang, tak peduli dengan lebatnya hujan, sampai tak dapat dibedakan air mata atau hujankah yang menetes. Yang kami pikirkan bagaimana dapat menemukan mobil itu, kami harus bertanggungjawab, terlebih diriku, perasaan bersalah selalu menghantui, pasalnya aku yang cari angkot tersebut.

Setelah merasa cukup ikhtiar dan kamipun belum shalat Maghrib. Aku putuskan untuk kembali ke sekolah, aku pasrah kan semua, aku berniat mengganti uang tersebut.

Tapiiiiiiii….kemana bu Ningsih yaaaa… dia tidak kelihatan, aku harus bertemu dia, semoga diapun kembali ke sekolah dulu, dan kita bicarakan baik-baik.

Aku pun menepi kepinggir jalan dengan sepasang mata tak lepas  memandang ke jalan raya, mengharap bu Ningsih segera muncul, meski berkali-kali air banjir yang dilalui mobil menampar wajah ku, aku terus menatap kearah barat sampai akhirnya bu ningsih pun terlihat juga…

Wajah bu Ningsih nampaknya juga sudah pasrah, ia lebih jauh berputar-putar nya…

Alhamdulillah nya ia juga berpikir sama harus bertemu dengan ku dulu. Kami putuskan untuk kembali ke sekolah… Masing-masing hati kami berbicara yang ternyata suara hati kami punya niatan yg sama alias mengganti uang sekolah.

Masing-masing kami muhasabah diri dan berhusnudzon atas kejadian ini, aku terus beristighfar sepanjang perjalanan menuju sekolah

Masya Allah… Tepat di depan toko sebrang sekolah kami melihat mobil ituuuu….

Serentak perasaan lega memenuhi hati kami, aku langsung putar balik, nyaris seluruh tubuh terasa lemas, tak terasa aku bergelantungan di pintu depan mobil, sambil berkata…” Ya Allah …Alhamdulillah… Abang jujuuuuur …Abang baiiiiiik, terimakasih ya Allah….

Sopir itupun bercerita bahwa mobilnya mogok dua kali sempat didorong, diperbaiki lalu mogok lagi, pakaiannya pun basah kuyup, karena mendorong mobil dan sempat jalan kaki ngejar-ngejar orang yang ternyata bukan kami. Dia sungguh kebingungan karena dia tidak tahu alamat sekolah kami yang sebenarnya tinggal beberapa meter lagi terlihat. Dia memutuskan berhenti berharap bertemu kami dan sudah  hampir 1 jam disitu. Dia tidak tau harus bagaimana…

Ia bercerita dengan wajah cemasnya…

Aku sampaikan ” Ya Allah, Abang… karena Abang sudah jujur dan pastinya lelah sekali, aku akan tambah ongkosnya jadi 200 rb, tenang bang, tenang… aku sangat bersyukur kita bisa bertemu…

Alhamdulillah… Indah pada waktunya…

Aku dan bu Ningsih berpelukan, perasaan lega luar biasaaa dan syukur… seakan menghilangkan segala lelah. Kami shalat dan sujud syukur. Alhamdulillah… Allah Maha Baik, dan telah mempertemukan kami dengan orang-orang baik.

 

Bagikan

1 Comment

  1. Pa kuserin on August 15, 2017 at 1:43 pm

    Robbi habli hukman wa alhiqni bis sholihin… Aamiin…

Leave a Comment